Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: lawan!

— Wiji Thukul ~ Penyair

Desa Susukan

Selamat Datang di Desa Susukan, Kec. Sumbang, Kab. Banyumas

Buku

Buku menggeletak, tidak tertata, tertelungkup tidur bebas di mana-mana. Mereka tidak tersentuh o;eh tangan-tangan kecil itu, walaupun rumah-rumahnya dihias warna-warni, warna-warni yang menyimpan harap, harapan agar disentuh, agar didalami.

Dalam satu hari taman dibuka, kira-kira ada 100 orang yang datang, mereka bermain, berswafoto, ataupun menikmati makanan dan minuman yang tersaji. Namun, sudut taman yang berisi buku-buku itu masih sepi. terkadang sesekali ada anak yang mampir karena tertarik akan warna-warni yang mengikat mata, tetapi tidak lama dia akan pergi, karena buku tidak memikat hatinya lagi.

Buku adalah salah satu senjata, pendapatku. Dimana diri ini dilanda kebuntuan, buku bisa jadi salah satu pelarian ketika tidak ada satu pun orang yang bisa diajak bicara, Toh firmanNya ku baca dari buku. Buku, lembaran kertas yang berisi ilmu. Dalam telinga, ku dengar dia bersuara, “kapankah kau kan sentuh diriku?”.

Manusia Biasa