Diskusi Sinergi Program, Mari Bergerak Seirama dan Nyata

Diskusi merupakan sesuatu yang menarik. Hal ini dikarenakan dengan diskusi, masalah yang terlihat pelik dapat diurai dan diselesaikan dengan cepat dan tepat. Seperti diskusi kali ini yang berfokus pada Pemberdayaan Masyarakat di Desa Susukan.

This slideshow requires JavaScript.

Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa Desa Susukan mempunyai grand design menjadi Desa Wisata Edukasi. Oleh karena itu, selain membangun Taman Desa sebagai titik awal, perlu juga diselaraskan dengan program perberdayaan masyarakat. Tujuannya agar ketika Taman Desa telah berdiri, masyarakat desa telah siap dengan segala macam kemampuan, telah berdaya untuk menyokong Taman Desa tersebut. Untuk itulah kemudian diadakan acara FGD (Focus Group Discussion) Sinergitas Program Untuk Pengembangan Program Desa Wisata Edukasi Di Desa Susukan, Kecamatan Sumbang pada hari Kamis, 26 Januari 2017. FGD dihadiri oleh Dinsospermasdes, LPPM Unsoed, LPPM UMP, Camat Sumbang, BKAD Sumbang dan Tokoh Masyarakat Desa Susukan serta adik-adik KKN dari UMP dan Unsoed. Dimoderatori oleh Ketua BUM Desa Susukan, diskusi berjalan dengan menarik. Dari masing-masing pihak menyampaikan gagasan dan idenya khususnya terkait pemberdayaan masyarakat. Pada intinya dari BUM Desa Susukan menginginkan agar ketika ada pihak dari luar desa hendak melaksanakan program kegiatan di Desa Susukan, agar berkoordinasi dan berkolaborasi secara intensif dengan Pemerintah Desa dan BUM Desa. Hal ini sangat wajar, mengingat Desa Susukan sudah mempunyai program kerja sendiri. Diharapkan dari situ muncul satu pemahaman bersama untuk mensukseskan program kegiatan, dimana sebisa mungkin program kegiatan tersebut selaras dan seirama dengan program kerja Desa Susukan. Contoh kasus paling mudah dalam bidang pemberdayaan masyarakat misalnya Pelatihan Pembuatan Abon Lele. Dalam hal ini, BUM Desa Susukan telah membuat konsep pelatihan yang efektif dan efisien. Pelatihan dilakukan minimal sebanyak 3 kali. Hal ini untuk menjamin kualitas produk hingga dapat bersaing di pasar. Bahkan dalam hal Abon Lele, dilakukan pelatihan hingga 4 kali. Yang menarik adalah, konsep pelatihan yang digagas oleh BUM Desa sangat efisien dari sisi biaya. Karena pelatihan ini hanya dengan sedikit peserta, bahkan tanpa narasumber. Namun hasilnya sangat memuaskan. Kemudian dari 3 atau 4 kali pelatihan tersebut, perlu pembagian peran masing-masing pihak. Misalnya pelatihan pertama diselenggarakan oleh Pemerintah Desa, selanjutnya diselenggarakan oleh Dinsospermasdes, selanjutnya oleh LPPM Unsoed, dan seterusnya hingga tercipta produk yang layak untuk dipasarkan. Diantara sesi pelatihan tersebut tentu saja diperlukan evaluasi yang akan diperbaiki di pelatihan selanjutnya. Kegiatan FGD tersebut di atas hanyalah sebuah titik tolak untuk menyamakan persepsi. Selanjutnya masih perlu ditindaklanjuti secara intensif bagaimana pembagian peran masing-masing dalam proses pemberdayaan masyarakat di Desa Susukan, tentunya dengan kerangka kerja yang telah disusun oleh Pemerintah Desa dan BUM Desa Susukan.  
Webmaster dan ayah dari 3 (tiga) orang anak: 'Aisyah, Miqdad, dan Junaid. Penyuka sastra, gerimis, dan langit. Saat ini sudah menapaki kehidupan selama 29 tahun. Bekerja sebagai PNS di Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas. Dapat dihubungi melalui facebook di https://www.facebook.com/bayu.ratri