Ketika Para Wanita Berusaha Mengubah Desa melalui Lesus (Bagian II)

Sabtu, 29 Oktober 2016 merupakan hari yang bersejarah bagi kami. Kami mengadakan pelatihan membuat abon lele dengan cara kami sendiri, tanpa narasumber. Pelatihan ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa desa bisa. Bahwa warga mampu. Pelatihan ini dilakukan setelah proses diskusi dengan pihak luar untuk mengadakan pelatihan dengan konsep yang kami susun tidak membuahkan hasil sesuai harapan sebagaimana kami tulis sebelumnya disini.

This slideshow requires JavaScript.

Pelatihan diadakan tanpa narasumber. Melainkan hanya berdasarkan resep-resep yang berserakan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Karena pelatihan sebelumnya dengan mengundang narasumber sekalipun, tidak menghasilkan apapun kecuali sekedar utopia belaka. Dalam pelatihan yang diikuti oleh 6 (enam) wanita tangguh; 3 (tiga) orang dari Grumbul Karangjati, 3 (tiga) orang dari Grumbul Susukan; diharapkan dapat menghasilkan abon lele dengan rasa dan tekstur yang layak jual. Dan alhamdulillah, dengan kreativitas dan kesabaran para wanita tangguh ini, terciptalah abon lele dengan rasa dan tekstur yang layak untuk dipasarkan: Abon Lesus (Lele Susukan). Terciptanya Abon Lesus tentu tidak semudah membalik telapak tangan. HIngga 3 (tiga) kali percobaan merubah resep, barulah tercipta abon dengan cita rasa yang tekstur yang diharapkan. Ada beberapa catatan dalam proses pembuatannya, dan catatan-catatan ini akan coba diselesaikan dalam pelatihan berikutnya, yang direncanakan akan diadakan maksimal 2 minggu setelah ini. Tentu saja selain catatan-catatan dalam proses pembuatan, ada beberapa hal yang masih perlu ditindaklanjuti misalnya cara yang efektif dan efisien mengolah abon lele, perhitungan keuntungan,  proses pengemasan, dan proses pemasaran. Dan hal tersebut di atas, menjadi tugas BUM Desa untuk memecahkannya. Namun setidaknya, dari pelatihan hari ini, kami warga desa Susukan, bisa membuat produk sendiri, bisa pelatihan sendiri, dan bahkan bisa belajar dari masalah yang muncul kemudian menyelesaikannya dengan cara kami sendiri. Karena kami bisa, karena kami mampu. Karena keajaiban tercipta dari semangat dan tetes keringat...
Webmaster dan ayah dari 3 (tiga) orang anak: 'Aisyah, Miqdad, dan Junaid. Penyuka sastra, gerimis, dan langit. Saat ini sudah menapaki kehidupan selama 29 tahun. Bekerja sebagai PNS di Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas. Dapat dihubungi melalui facebook di https://www.facebook.com/bayu.ratri