Masih Banyak Ruang untuk Berkembang bagi Manggleng Susukan

Geliat ekonomi di Desa Susukan menunjukkan arah yang menggembirakan. Setidaknya hal ini terlihat dari beberapa usaha rumahan yang dilakukan oleh sebagian warga desa Susukan. Setelah sebelumnya ada Abon Lesus (Lele Susukan) dan aneka kue Ibu Karis yang telah terealisasi dan kripik singkong a la Qtela yang masih dalam angan-angan, muncul produk baru berupa manggleng. Manggleng Pedas 2 Manggleng sendiri berbahan baku utama singkong alias ubi kayu. Manggleng bisa dikatakan serupa tapi tak sama dengan keripik. Proses pengolahannya hampir mirip, namun manggleng cenderung lebih tebal daripada keripik. Walaupun tebal, namun manggleng tetap renyah. Di Desa Susukan, tepatnya di grumbul Karangjati, berdasarkan penuturan dari salah satu warga yaitu Regita Nur Hasna yang merupakan putri dari Ibu Retno, salah satu produsen manggleng, pembuatan manggleng awalnya dilakukan secara berkelompok. Namun karena alasan kepraktisan, produksi manggleng akhirnya dilakukan dalam kelompok yang lebih kecil lagi, yaitu dua orang saja. Dalam hal ini, produksi manggleng dilakukan oleh Ibu Retno dan Ibu Satem. Manggleng yang diproduksi dikemas dengan kemasan yang sederhana yang dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Saat ini tersedia 2 (dua) macam kemasan yaitu kemasan ukuran 250 gram yang dijual seharga 5.000 rupiah, dan kemasan 50 gram yang dijual seharga 1.000 rupiah. Meskipun murah meriah, namun untuk rasa tetap dipastikan tidak mengecewakan. Dalam sekali produksi, dibutuhkan 25 kg singkong. Adapun produksi dilakukan antara 3 - 5 hari sekali. Setelah diproduksi, manggleng dipasarkan dengan cara dititipkan ke warung-warung di sekitar Desa Susukan dan juga melalui perantara warga Desa Susukan yang bekerja di pabrik-pabrik. Selain itu, juga menerima pesanan dan siap kirim ke seluruh Indonesia. Untuk pemesanan Manggleng Susukan, silahkan hubungi kami disini. Sebagaimana umumnya produksi skala rumahan, hambatan utama yang dialami oleh Ibu Retno dan Ibu Satem adalah terkait masalah pemasaran. Mereka sangat berharap ada solusi yang bisa diberikan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah ini.
Ibuku bingung pak, mungkin sedikit dibantu untuk pemasarannya ~ Regita Nur Hasna
Dikonfirmasi terkait masalah tersebut, Rigih Bayu Ratri selaku Direktur BUM Desa Susukan, memiliki pemikiran bahwa sebenarnya masih banyak sekali ruang untuk berkembang bagi produksi rumahan seperti Manggleng Susukan ini. Dalam hal ini, diperlukan inovasi-inovasi yang membuat produk itu menjadi unik dan berkualitas sehingga meningkatkan nilai jual. Adapun untuk pemasaran, maka BUM Desa Susukan telah merancang konsep awal mengenai pemasaran produk secara online maupun offline. Untuk pemasaran secara online, akan digagas tim khusus yang akan dilatih secara khusus pula untuk memasarkan produk-produk yang ada di Susukan, tentunya setelah produk itu diolah sedemikian rupa dan memiliki nilai jual yang cukup. Adapun pemasaran secara offline, secara informal telah dicapai kesepakatan untuk memasukkan produk-produk Desa Susukan ke koperasi-koperasi yang tersebar di Banyumas dan sekitarnya. Demikian dikatakan oleh Direktur BUM Desa Susukan.
Webmaster dan ayah dari 3 (tiga) orang anak: 'Aisyah, Miqdad, dan Junaid. Penyuka sastra, gerimis, dan langit. Saat ini sudah menapaki kehidupan selama 29 tahun. Bekerja sebagai PNS di Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas. Dapat dihubungi melalui facebook di https://www.facebook.com/bayu.ratri