Menyoal Sampah, Antara Bank Sampah dan Incenerator

logo-greenSampah merupakan masalah, tidak hanya di kota, namun juga di desa. Setiap hari, setiap orang menghasilkan sampah. Kebiasaan di desa dalam menangani sampah secara garis besar ada 3 jenis, yaitu dimusnahkan dengan cara dibakar, ditimbun untuk dijadikan pupuk organik atau di buang ke sungai. Sampah anorganik biasanya dibakar, sedangkan sampah organik biasanya ditimbun. Penanganan sampah di atas, walaupun mengatasi masalah di satu sisi, namun sebenarnya masih menimbulkan masalah di sisi lain. Pembakaran sampah anorganik selain menimbulkan polusi udara, sebenarnya masih juga menyisakan sampah hasil pembakaran. Belum lagi sampah anorganik yang tidak bisa dibakar misalnya kaca atau besi. Untuk sampah organik, meskipun bisa ditimbun, namun banyaknya sampah organik serta lambannya proses pembusukan berakibat munculnya bau tidak sedap serta dapat menjadi sarang bibit-bibit penyakit. Adapun mengatasi sampah dengan membuang ke sungai jelas merupakan sesuatu yang salah total.
Jika bukan kita yang memulainya, siapa lagi? Jika bukan sekarang kita memulainya, kapan lagi?
Untuk itu, perlu adanya solusi yang tidak setengah-setengah dalam masalah sampah ini. Dari beberapa literatur, paling tidak ada 2 (dua) cara mengatasi sampah secara total, yaitu dengan Bank Sampah dan Incenerator (Pemusnah/Pembakar Sampah). Inti dari Bank Sampah adalah memilah sampah, mana yang masih bisa dimanfaatkan dan mana yang harus dimusnahkan. Pemanfaatan sampah secara umum untuk dijual langsung atau diolah terlebih dahulu, misalnya menjadi pupuk organik atau barang-barang daur ulang. Setelah dipilah, sampah yang memang sudah tidak bermanfaat perlu dimusnahkan dengan Incenerator. Incenerator sendiri adalah semacam tungku khusus untuk membakar sampah secara total, tanpa menimbulkan polusi yang berlebih. Bahkan, abu atau sisa pembakaran incenerator ini dapat digunakan sebagai campuran membuat batako.
Kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, namun kita meminjamnya dari anak cucu kita. Maka kembalikanlah bumi ini secara utuh pada mereka.
Berdasarkan hitungan kasar, untuk pembangunan incenerator, biaya pembuatan dalam satu grumbul di Desa Susukan diperkirakan sekitar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Sedangkan untuk membuat dan menjalankan Bank Sampah di Desa Susukan, diperlukan biaya awal sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah). Untuk selanjutnya diupayakan pengelolaan Bank Sampah berupa iuran sebesar Rp. 500 rupiah per minggu per rumah, selama kurang lebih 3 (tiga) bulan. Selanjutnya Bank Sampah diusahakan dapat menjalankan operasionalnya secara mandiri tanpa bergantung pada pihak lain. Tentunya pemerintah desa perlu mendukung, selain dengan pendanaan juga dengan pembuatan regulasi. Mari kita bersama mewujudkan Desa Susukan yang bersih dan asri.
Webmaster dan ayah dari 3 (tiga) orang anak: 'Aisyah, Miqdad, dan Junaid. Penyuka sastra, gerimis, dan langit. Saat ini sudah menapaki kehidupan selama 29 tahun. Bekerja sebagai PNS di Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas. Dapat dihubungi melalui facebook di https://www.facebook.com/bayu.ratri