Sistem Pertanian Terintegrasi, Saatnya Petani Berjaya di Negeri Sendiri (Bagian I)

Pertanian, merupakan roh suatu negeri. Tanpa adanya pertanian yang maju dan berhasil, maka suatu negeri akan tetap tertinggal dan terbelakang. Tak peduli seberapa maju industri yang ada di sebuah negeri, jika untuk bahan makanan seperti padi, kedelai, jagung, dan bahkan garam masih import, maka negeri tersebut bukanlah negeri yang maju.

This slideshow requires JavaScript.

Pada hari Kamis, 20 Oktober 2016, Direktur BUM Desa Susukan berkesempatan mengikuti seminar yang diadakan oleh Fakultas Pertanian Unsoed bekerja sama dengan Dekopinda Banyumas dan KopKun Institute berjudul "Menjangkarkan Kedaulatan Pangan melalui Strategi Integrated Farming Berbasis Koperasi Pemberdaya". Menghadirkan 3 (tiga) orang narasumber yaitu Bima Kartika dari Dinas Koperasi Provinsi Jawa Tengah, Jaka Budi Santoso dari Bappeda Kab. Banyumas, dan Praktisi Integrated Farming System, Sudarmoko alias Mbah Moko, seminar berlangsung menarik terutama dengan munculnya alternatif-alternatif memberdayakan petani. Coorporate atau Cooperative Farming yang digagas oleh Bappeda dan Dinas Koperasi, sangat menarik untuk diterapkan di desa. Apalagi bila dalam penerapannya menggunakan tehnik-tehnik yang sudah terbukti di lapangan sebagaimana diterapkan oleh Mbah Moko. Mbah Moko, yang merupakan praktisi, membeberkan dengan gamblang bagaimana cara agar para petani dapat kembali berdaya, namun dengan cara yang 'tradisional' atau tepatnya organik. Filosofi yang disampaikan oleh Mbah Moko hampir sama dengan filosofi petani kopi. Dimana ketika menginginkan kopi dengan kualitas premium, maka perlu perlakuan khusus, dan perlakuan khusus tersebut bukan dimulai dari pembibitan atau penyemamian benih, tapi justru dimulai dari tanah/ bumi. Ada banyak kekeliruan yang kemudian dianggap kewajaran dan menjadi kebiasaan dalam pengolahan tanah, baik tanah sawah maupun tanah kebun. Hal ini disadari atau tidak kemudian berdampak kepada merosotnya hasil pertanian dan tentu saja dampak akhirnya adalah para petani kemudian hanya berputar-putar di lingkaran kemiskinan. Negeri, dalam hal ini Desa, punya peran sangat penting untuk merubah pola pikir, memberi contoh dan motivasi, serta menggerakkan petani untuk menerapkan sistem pertanian yang mampu membawa petani ke kehidupan yang lebih baik. Dalam hal ini, Pemerintah Desa Susukan melalui BUM Desa Susukan sebenarnya telah membuat rencana Sistem Pertanian Terpadu. Sistem ini akan mulai dijalankan tahun 2017. Semoga dengan menerapkan sistem ini para petani di Desa Susukan dapat makin sejahtera!
Webmaster dan ayah dari 3 (tiga) orang anak: 'Aisyah, Miqdad, dan Junaid. Penyuka sastra, gerimis, dan langit. Saat ini sudah menapaki kehidupan selama 29 tahun. Bekerja sebagai PNS di Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas. Dapat dihubungi melalui facebook di https://www.facebook.com/bayu.ratri