Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: lawan!

— Wiji Thukul ~ Penyair

Desa Susukan

Selamat Datang di Desa Susukan, Kec. Sumbang, Kab. Banyumas

Branding, Ekspektasi, dan Desa yang Overrated

Desa Wisata. Desa Melek IT. Desa Bersih Sehat. Dan beberapa desa dengan tema branding yang luar biasa. Ya, luar biasa. Karena desa, ternyata telah mengenal branding. Branding membuat sebuah desa menjadi mempunyai ciri khas sekaligus tujuan. Sederhananya, tanpa perlu membuat visi misi yang njelimet bin absurd, branding sudah mencakup itu semua. Itu dari sisi intern desa.

Branding bagi masyarakat luar desa memunculkan daya pukau, rasa ingin tahu, ekspektasi, dan imajinasi. Hal itu membuat branding menjadi pisau bermata dua.

Di satu sisi, branding membangkitkan alam bawah sadar masyarakat desa untuk ikut berperan aktif dalam mewujudkan branding tersebut. Di sisi lain, branding menciptakan imajinasi dan ekspektasi bagi masyarakat luar desa, yang seringkali tidak (atau belum) terpenuhi oleh desa tersebut.

Desa yang overrated. Mungkin frasa itu dapat mewakili curahan hati bagi masyarakat luar desa yang kadung terpukau dengan branding suatu desa. Rasa ingin tahu mendorong mereka datang mengunjungi desa tersebut. Tapi yang muncul kemudian adalah tanda tanya. Tidak sesuai ekspektasi. Efek kamera. Pencitraan. Dan frasa-frasa lain yang kurang lebih sama.

Kamu pernah juga berkunjung ke desa yang overrated?

Tapi apapun itu, sebuah desa yang telah mensetting diri untuk terbuka pada publik melalui branding, harus siap. Siap untuk menerima konsekuensi dari branding tersebut. Termasuk kritik, bahkan yang paling jahat sekalipun.

Justru hal seperti itu dapat dijadikan batu loncatan. Misalnya dengan membuat kuisioner untuk masyarakat luar desa yang telah datang ke desa. Kuisioner itu sebagai bahan evaluasi untuk semakin memperkuat branding desa.

Branding itu penting. Tapi tanpa follow up, bisa jadi bumerang. Semacam one hit wonder. Cemerlang, lalu terlupakan.

Pernahkah kita bertanya, pada mereka yang datang ke desa, kesan dan pesan mereka tentang desa kita?

Webmaster dan ayah dari 3 (tiga) orang anak: ‘Aisyah, Miqdad, dan Junaid. Penyuka sastra, gerimis, dan langit. Saat ini sudah menapaki kehidupan selama 29 tahun. Bekerja sebagai PNS di Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas. Dapat dihubungi melalui facebook di https://www.facebook.com/bayu.ratri