Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang

— Soekarno ~ Presiden RI

Desa Susukan

Selamat Datang di Desa Susukan, Kec. Sumbang, Kab. Banyumas

Ketika Para Wanita Berusaha Mengubah Desa melalui Lesus (Bagian I)

Desa Susukan diberkahi dengan alam yang elok menawan dan terutama potensi air yang mengalir sepanjang tahun. Maka sudah sewajarnya jika di Desa Susukan banyak warga yang mata pencahariannya berkaitan dengan air. Salah satu yang cukup menonjol adalah para peternak ikan. Namun demikian, sampai dengan hari ini, belum ada usaha yang berhasil dengan signifikan untuk meningkatkan taraf kehidupan warga desa, khususnya para peternak ikan.

This slideshow requires JavaScript.

Dari analisis sederhana, usaha untuk meningkatkan taraf hidup warga desa, khususnya di Desa Susukan, seringkali tidak mendapatkan hasil yang maksimal karena beberapa hal, yaitu pelatihan dilakukan setengah-setengah atau pelatihan dilakukan tanpa berembug dulu dengan warga apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh warga. Atau dengan bahasa mudahnya: pelatihan yang tidak tepat sasaran.

Sebagaimana pernah kami dikatakan oleh di akun facebook:

—-

Warga desa, sudah banyak mendapatkan pelatihan2 ketrampilan. Terlalu banyak malah. Tapi dari pelatihan2 itu, seberapa banyak kah produk desa yg kemudian layak untuk dipasarkan dan bersaing? Kemudian berapa banyak warga yg berdaya dari pelatihan2 itu?

Bahkan saya dengar sendiri dari akademisi senior, bahwa dari 100 orang yg dilatih, 1 saja yg berhasil itu sudah bagus. Salah satunya karena warga belum bisa diajak untuk maju.

Holy shit!!!

Berkali2, sejak jaman dlu melatih ini itu, kemudian hari ini bilang 99% gagal itu udah bagus. Klo bukan akademisi yg bilang, mungkin saya tidak terlalu terkejut. Tapi mendengar hal itu dari akademisi, sungguh bangsa ini berada di titik nadir.

Apa cuma saya yang berpikiran, klo model2 pelatihan seperti itu gagal, berarti ada yg perlu diubah model pelatihannya. Bukan malah menyatakan bahwa warga desa yg dilatih tidak punya keinginan untuk maju.

Padahal sudah sampai pada analisis bahwa keinginan warga untuk maju masih lemah, kenapa bukan kelemahan itu yg coba diperbaiki, tapi malah bertahan dg model lama?

Dan saya kira, lemahnya keinginan itu justru karena warga terlalu banyak diberi pelatihan2 utopis. Lantas sekarang yg memberikan pelatihan2 itu justru seolah menuding warga desa itu malas dan tidak ingin maju???

Rika waras?

—-

Maka kemudian kami berusaha mandiri, berusaha berdaulat, berdiri di kaki kami sendiri. Bantuan-bantuan atau apapun dari pihak luar yang masuk ke desa, mesti dirembug dulu dengan desa, tidak serta merta memberikan bantuan atau melakukan pelatihan tanpa mendengar suara dari desa. Bahwa Desa adalah subjek, bukan objek.

Tidak mudah memang, tapi perlahan kami memulainya. Misalnya pelatihan hari ini, Sabtu 29 Oktober 2016. Pemerinah Desa Susukan dan BUM Desa Susukan mengadakan pelatihan abon lele, mulai dari proses pembuatan sampai ke pengemasan. Dalam hal ini, BUM Desa Susukan juga sudah mempunyai rencana ke depan proses bisnis abon lele.

Sedikit flashback, pelatihan abon lele ini dilakukan karena pelatihan sejenis yang dilakukan oleh salah satu perguruan tinggi di Desa Susukan, tidak sesuai dengan rencana kerja BUM Desa. BUM Desa merencanakan proses bisnis abon lele ini dengan model manajemen modern yang memisahkan antara proses produksi, distribusi, marketing, accounting, dll. Adapun perguruan tinggi berkeinginan -dalam bahasa saya- menciptakan individu super dengan lambang UMKM di dada, yang mampu melakukan semua proses usaha di atas.

Dan ketika proses diskusi dengan pihak luar tidak membuahkan hasil selain stigma bahwa ‘desa itu objek’ dan ‘desa itu bodoh’, maka BUM Desa sepakat untuk tidak sepakat. Maka BUM Desa memutuskan untuk menjalankan rencana kerjanya sendiri, melakukan dengan caranya sendiri, tanpa melibatkan pihak luar yang tak mau mengerti (cieee).

Karena kami bisa, karena kami mampu. Dan kalin menganggap kami tak pernah bisa, kami tak pernah mampu.

bersambung…..

Webmaster dan ayah dari 3 (tiga) orang anak: ‘Aisyah, Miqdad, dan Junaid. Penyuka sastra, gerimis, dan langit. Saat ini sudah menapaki kehidupan selama 29 tahun. Bekerja sebagai PNS di Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas. Dapat dihubungi melalui facebook di https://www.facebook.com/bayu.ratri