Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.

— Soekarno ~ Presiden RI

Desa Susukan

Selamat Datang di Desa Susukan, Kec. Sumbang, Kab. Banyumas

Perpustakaan Modern yang Tanpa Buku

Pasal 3 UU No 43 Tahun 2007 menyatakan bahwa “Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa”.

Jumlah perpustakaan berdasarkan data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia cukup memukau, 25.728 buah. Sayangnya sebaran perpustakaan ini tidak merata. Ada 4.780 perpustakaan di Jawa Barat, namun Cuma ada 3 di Papua Barat. Ketimpangan ini mencerminkan kualitas literasi di wilayah yang memiliki sedikit perpustakaan. Sebagaimana kita ketahui minat baca masyarakat di Indoneisa masih sangat rendah, tepatnya berada di urutan ke-60 setelah Thailand (59).

Jika dilihat dari jumlah, maka Indonesia memiliki jumlah perpustakaan yang tidak sedikit, namun sayangnya jumlah perpustakaan yang tinggi tidak dapat menjamin kualitas literasi masyarakatnya. Nampaknya ada banyak perpustakaan yang sekedar ada, namun kemanfaatannya seperti tiada. Perpustakaan seperti kehilangan konsep yang memberdayakan. Akhirnya perpustakaan hanya akan menjadi tempat koleksi buku yang akan usang bersama waktu.

Nampaknya dua hal penting yang harus dimiliki perpustakaan sudah dilupakan, yaitu pertama, tersedianya buku-buku yang menarik dan kontekstual, artinya buku yang menjadi koleksi adalah buku-buku yang memang dibutuhkan para pengunjung; kedua, pengelola yang gigih dan mau menjadi ‘model’ kegiatan baca-tulis yang memberdayakan.

UU Perpustakaan juga menyatakan, bahwa perpustakaan adalah institusi yang mengumpulkan pengetahuan tercetak dan terekam, mengelolanya dengan cara khusus guna memenuhi kebutuhan intelektualitas para penggunanya melalui beragam cara interaksi pengetahuan. Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah.

Perpustakaan dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.

Perpustakaan dapat juga diartikan sebagai kumpulan informasi yang bersifat ilmu pengetahuan, hiburan, rekreasi, dan ibadah yang merupakan kebutuhan hakiki manusia. Oleh karena itu perpustakaan modern telah didefinisikan kembali sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apa pun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut atau tidak.

Dalam perpustakaan modern sekarang, selain kumpulan buku cetak, sebagian buku dan koleksinya ada dalam perpustakaan digital (dalam bentuk data yang bisa diakses lewat jaringan komputer). Penemuan media baru selain buku untuk menyimpan informasi, banyak perpustakaan kini juga merupakan tempat penimpanan dan/atau akses ke map, cetak atau hasil seni lainnya, mikrofilm, mikrofiche, tape audio, CD, LP, tape video dan DVD, dan menyediakan fasilitas umum untuk mengakses gudang data CD-ROM dan internet.

Perpustakaan yang terorganisir secara baik dan sistematis, secara langsung atau pun tidak langsung dapat memberikan kemudahan bagi proses belajar mengajar di sekolah tempat perpustakaan tersebut berada. Hal ini, terkait dengan kemajuan bidang pendidikan dan dengan adanya perbaikan metode belajar-mengajar yang dirasakan tidak bisa dipisahkan dari masalah penyediaan fasilitas dan sarana pendidikan.

Salah satu peran Perpustakaan merupakan upaya untuk memelihara dan meningkattkan efisiensi dan efektifitas proses belajar-mengajar.  Oleh karena itu perpustakaan modern telah didefinisikan kembali sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apa pun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut atau tidak. Dalam perpustakaan modern ini selain kumpulan buku tercetak, sebagian buku dan koleksinya ada dalam perpustakaan digital (dalam bentuk data yang bisa diakses lewat jaringan komputer).

Revolusi Pertama Perpustakaan Tanpa Buku di Amerika

Sebuah perpustakaan dibangun dengan dana sebesar AS $2,3 juta atau sekitar Rp27 miliar di Amerika. Meski demikian, perpustakaan ini dapat menekan biaya lebih banyak dibandingkan perpustakaan tradisional biasa. Hal ini disebabkan karena perpustakaan ini tidak perlu memakan banyak tempat dan tidak membutuhkan banyak pekerja terutama dalam menyusun tumpukan buku habis baca di dalam rak masing-masing.

Tak ada buku dalam perpustakaan ini, kecual hanya berisi komputer dan tablet. Perpustakaan bernama BibiloTech di Bexar County, Texas, Amerika Serikat ini adalah satu-satunya perpustakaan umum tanpa buku dengan 10 ribu judul koleksi digital.

Perpustakaan ini sudah beroperasi sejak bulan September 2013, merupakan anak usaha dari Bexar County Judge, Nelson Wolff, sebuah perpustakaan penyimpanan buku kolektor hasil print edisi pertama yang kemudian menjadi perpustakaan print-only.

Perpustakaan virtual ini menawarkan jasa sewa e-book untuk kemudian bisa di-download sendiri di rumah. Akses Wi-Fi pun disediakan dalam perpustakaan ini. Selain itu tersedia juga tablets dan ruangan khusus anak-anak untuk digunakan oleh mereka selama kunjungan berlangsung.

Perpustakaan virtual ini terus menambah koleksinya dengan buku-buku populer, sebagaimana layaknya perpustakaan tradisional biasa.  Meski demikian pustakawan yang skeptis terus mengawasi perkembangan perpustakaan revolusioner ini. Beberapa kritik yang disampaikan, antara lain adalah versi digital buku-buku populer tidak tersedia dan terkadang lebih mahal dari buku biasa. Kritik lainnya juga mengenai desakan warga untuk melindungi keberlangsungan buku cetak.

Pendiri Perpustakaan Biblio Tech adalah seorang penggemar buku dengan koleksi pribadi mencapai sekitar 1.000 buku edisi pertama. Ia dikabarkan tak pernah memiliki e-reader (tablet khusus untuk membaca ebook), namun ia mengerti bahwa teknologi agak berganti dengan cepat dan akan sangat bagus jika ia berinvestasi di ebook dan perpustakaan digital. Gagasan ini muncul setelah membaca biografi pendiri Apple, Steve Jobs.

Wilayah Bexar sebenarnya belum memiliki sistem perpustakaan daerah, sehingga Wolff memutuskan untuk membuka perpustakaan digital guna melayani warga di area-area yang belum terjangkau oleh perpustakaan biasa. Padahal Wolff adalah orang yang suka memegang buku di tangan, dan mengakusedikit kuno.

Perpustakaan digital ini memiliki lebih dari 10.000 judul dan ratusan e-reader yang bisa disewa oleh pengunjung, termasuk beberapa puluh di antaranya yang dirancang khusus untuk anak-anak. Tentu saja perpustakaan ini sudah dilengkapi dengan wifi tak ketinggalan gerai kopi pun tersedia di sini.

Sebenarnya beberapa kampus di AS telah mulai memiliki perpustakaan digital, seperti University of Texas di San Antonio. Perpustakaan Teknik dan Teknologi Terapan milik kampus itu adalah salah satu dari perpustakaan universitas pertama yang murni digital saat dibuka pada 2010. Drexel University di Philadelphia pun membuka perpustakaan nir-buku bernama Library Learning Terrace, tahun lalu.

Lebih dari tiga perempat perpustakaan umum di AS memiliki buku digital dan 39% menawarkan e-reader bagi pengunjungnya, demikian menurut Asosiasi Perpustakaan Amerika (ALA). Namun ide beralih sepenuhnya ke e-book ternyata masih belum diterima secara luas. Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran penerbit akan merosotnya jumlah penjualan buku cetak, sehingga mereka berhati-hati dalam menyediakan buku baru ke perpustakaan dalam bentuk e-book. Perpustakaan pun harus membayar lebih mahal untuk buku digital yang boleh dipinjamkan.

Tidak hanya Perpustakaan Biblio Tech saja yang meniadakan buku, Cushing Academy, sebuah lembaga pendidikan prep-schoo elit di Massachusetts mengumumkan bahwa mereka telah mengosongkan perpustakaannya dari buku. Di tempat yang dulu dipadati buku-buku, kini telah digantikan dengan apa yang disebut “state-of-the-art computers high-definition untuk keperluan penelitian dan membaca.” Terdapat pula, “deretan monitor untuk para siswa yang menyediakan data real-time dan interaktif serta pasokan berita dari seluruh dunia.”

Masa Depan Dunia tanpa Buku Cetak

Banyak yang meragukan eksistensi perpustakaan di masa depan. Apakah buku cetak masih akan dibutuhkan dalam perpustakaan?  Apakah cetak akan sepenuhnya tergantikan dengan buku elektronik? Apakah perpustakaan tidak akan lagi dipenuhi koleksi buku tercetak?

Manusia pada dasarnya selalu mencari cara yang termudah untuk melakukan berbagai hal dalam hidupnya atau untuk memenuhi kebutuhannya. Apalagi dalam memenuhi kebutuhan informasi. Itu sebabnya peradaban manusia terus berkembang, meski ada beberapa masa peradaban manusia terlihat seperti mandeg atau tidak berkembang.  Namun manusia terus membuat berbagai terobosan untuk menyingkirkan berbagai hambatan dan menjadikan segalanya lebih mudah dan berguna.

Keberadaan buku elektronik dalam peradaban digital juga dalam kerangka membuat terobosan baru dalam saling bertukar informasi atau ilmu pengetahuan.

Perpustakaan sebagai institusi pengumpul, pengolah dan penyebar ilmu pengetahuan memegang peran penting akan kelestarian buku tercetak dan pemanfaatan buku elektronik. Perpustakaan harus berinisiatif untuk mengenalkan buku elektronik kepada masyarakat karena tidak dapat dipungkiri buku elektronik dapat mempermudah akses terhadap buku tanpa harus mengunjungi perpustakaan.

Dan buku elektronik juga lebih mudah dan ringan karena tidak perlu membaca buku seberat 2 kg, jika membaca buku sebanyak 300 halaman. Semuanya ada dalam genggaman sebuah tablet, layar komputer atau telepon selular. Hal ini memang tak dapat dipungkiri kehadirannya membawa manfaat besar bagi masyarakat.

Di luar kemudahan dalam membaca buku ratusan halaman, membaca buku elektronik memerlukan keahlian tersendiri karena tidak semua orang bisa berlama-lama membaca di layar. Cahaya dipantulkan monitor atau layar telepon seluler menyebabkan mata lelah, hal ini menjadi salah satu kekurangan dalam membaca buku elektronik.

Bagi yang sudah menggemari buku elektronik mungkin sudah tahu, bahwa ebenarnya sekarang sudah ada banyak reader yang layarnya dibuat seperti kertas. Artinya tidak mengeluarkan cahaya seperti layar komputer atau layar telepon genggam. Layar hitam-putih ini membutuhkan cahaya seperti saat kita membaca selembar kertas.

Sebagaimana selembar kertas putih, layar reader ini juga berwarna putih dan butuh cahaya dari luar agar kita bisa melihatnya. Salah satu merek yang mengeluarkan produk seperti ini adalah Kindle dari Amazon.com. Reader ini biasanya dijual dalam ukuran buku yang normal dan sangat ringan. Hebatnya lagi ia bisa menyimpan ribuan buku di dalamnya. Itu belum termasuk kemampuannya menukar-nukar koleksi bukunya dengan menggunakan wifi.

Perpustakaan di masa depan bukan lagi hanya tempat untuk meminjam dan mengembalikan buku. Perpustakaan menjadi tempat yang didatangi masyarakat untuk melakukan interaksi sosial. Interaksi sosial yang dimaksud adalah diskusi, workshop, pertemuan komunitas dan pengembangan kreativitas, dll.

Perpustakaan pada masa depan lebih mengutamakan ruangan yang nyaman dan menfasilitasi berbagai kegiatan masyarakat. Konsep yang dikembangkan adalah mendekatkan perpustakaan dengan masyarakat dengan cara memberikan faslitias tempat dan berbagai sumber daya untuk menfasilitasi berbagai kegiatan masyarakat. Membuka pintu terhadap semua kegiatan masyarakat yang bersifat positif dan membangun. Secara ringkas, “apapapun kegiatannya tidak menjadi soal, selama dilaksanakan di perpustakaan”.

Mewujudkan konsep tersebut, perpustakaan dituntut untuk melakukan jejaring atau kerjasama antara perpustakaan yang komitmen dan berkelanjutan. Perpustakaan akan berlomba-lomba membangun sebanyak-banyaknya jejaring dengan perpustakaan sejenis atau perpustakaan lain di luar lingkungan atau zona nyamannya.

Tidak ada lagi pemikiran bahwa koleksi perpustakaan hanya bisa dimanfaatkan oleh anggota perpustakaan tersebut. Jaringan perpustakaan, memungkinkan untuk setiap anggota perpustakaan dapat mengakses koleksi perpustakaan lain yang telah berjejaring. Tidak diperlukan kartu tambahan untuk meminjam koleksi perpustakaan lain, karena dengan jaringan perpustakaan memungkingkan satu kartu berlaku untuk banyak perpustakaan.

Pemustaka yang akan memanfaatkan perpustakaan tidak perlu menelusur di dalam perpustakaan, mereka dapat melakukannya di mana pun dengan menggunakan akses internet. Tanpa menunggu lama, koleksi yang diinginkan dapat dengan mudah dipesan dan diantar sesuai keinginan pemustaka. Tentu saja untuk mewujudkan pesan antar koleksi perpustakaan akan dikenakan biaya tertentu.

Mewujudkan “perpustakaan bersatu” harus dibarengi dengan keikhlasan tiap perpustakaan untuk saling memberikan akses koleksi perpustakaannya kepada mitranya. Semua itu bisa terwujud dengan terlebih dahulu dibuat keseragaman sistem yang digunakan. Sistem yang digunakan pada masa depan harus memungkinkan perpustakaan untuk berbagi data dan metadata tanpa harus memindah fisik koleksi. katalog harus berbasis web dan saling terintegrasi, perpustakaan yang bersikukuh dengan prinsip dan idelismenya untuk tidak memberikan akses kepada perpustakaan lain untuk bisa memanfaatkan, lambat laun akan ditinggalkan pemustaka.

AKHIRUL KALAM

Dari dulu sampai sekarang, buku memegang peranan sangat vital bagi manusia. Tanpa buku, mungkin manusia akan tetap hidup seperti manusia pra sejarah yang banyak mengandalkan hidupnya dari alam. Tanpa buku, tidak mungkin manusia mencapai kehidupan modern seperti sekarang ini. Di bukulah orang-orang pintar dunia menuliskan pengalaman, pemikiran, dan teori-teori mereka. Itulah yang dimanfaatkan oleh orang-orang sesudahnya.

Sebuah perpustakaan tanpa buku memang tak pernah terpikirkan dua puluh tahun lalu. Tapi kini ia telah jadi kenyataan. Peran penting perpustakaan hari ini tampaknya telah bergeser dari menyediakan akses ke karya cetak menjadi menyediakan akses ke internet. Ada banyak alasan untuk percaya bahwa tren ini (akan terus) menyebar kian cepat.

Pemandangan perpustakaan dengan ruang dengan rak-rak yang dipenuhi buku (bahan pustaka), meja baca dan petugas (pustakawan) mungkin saja akan segera berakhir dalam 10 tahun mendatang. Pemandangan itu akan digantikan dengan perpustakaan yang hanya berisi barisan komputer, laptop yang siap melayani kebutuhan informasi anda. Tidak ada lagi pustakawan yang dengan ramah akan menyapa dan bertanya apa yang anda cari/butuhkan, semua akan anda lakukan sendiri.

Perkembangan teknologi informasi global sangat berdampak kesemua sisi kehidupan manusia, dimana, kapan, dan siapa saja dapat dengan cepat mendapat berbagai informasi yang mereka butuhkan. Penggunaan teknologi informasi berupa internet sudah merupakan kebutuhan dalam kehidupan saat ini. Melek informasi (Literacy Information) sudah tidak terbatas lagi pada mereka yang mampu secara finansial saja, melalui sarana komunikasi (smartphone/tablet) berbasis android saja semua orang sudah dapat mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan.

Sebenarnya perpustakaan sangat terbantu dengan kemajuan teknologi informasi saat ini, sistem informasi manajemen perpustakaan berbasis web yang berisi informasi bibliografi dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja. Saat ini sebahagian perpustakaan hanya berupa sebuah “server” yang didalamnya terdapat informasi bibliografi elektronik seperti e-book, e-journal, bahkan koleksi karya ilmiah sivitas akademika dalam bentuk digital.

Dalam perkembangan beberapa tahun terkahir, terlihat bahwa perpustakaan mendapat tekanan dalam hal pengadaan koleksi digital seperti e-book dan e-journal ini terlihat dari porsi anggaran yang lebih dari pengadaan buku teks. Tentu saja hal ini menjadi menarik apabila ada penelitian tentang tingkat pemanfaatan koleksi digital yang sudah dilanggan dalam beberapa tahun terkahir.

Akhirnya semua hal tersebut berdampak pada pustakawan, setuju tidak setuju atau mau tidak mau pustakawan secara perlahan tapi pasti tidak lagi mengerjakan tugas-tugas konvensional yang masih dilakukan saat ini, seperti pekerjaan klasifikasi buku, membuat barcode, label, shelving, penjilidan dan kegiatan sirkulasi. Bahkan mungkin saja perpustakaan hanya membutuhkan pustakawan yang mempunyai kompetensi dalam bidang teknologi informasi.

Penulis: Retno Hermawati

 

Manusia Biasa